Lintas Berita :

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan

Pemilihan Bendesa Adat Desa Pakraman Galiukir

, 12 Januari 2015

Dalam pemilihan Bendesa Adat Desa Pakraman Galiukir Periode 2015-2020 yang dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2015 di ikuti oleh 3 calon yang telah ditetapkan oleh Panitia sesuai persyaratan. Mekanisme dan tata cara  pemilihan adalah menggunakan surat suara yang dimasukkan dalam kotak suara masing-masing calon dalam ruang tertutup. Pemilih adalah KK krama Desa Pakraman dengan 1 hak suara dan boleh diwakilkan oleh anggota "KK" krama Desa Pakraman dengan batasan umur minimal 17 tahun.

Jumlah pemilih yang memberikan suara sebanyak 403 suara dari jumlah pemilih yang terdaftar 550 hak suara termasuk yang tinggal diluar Desa Pakraman Galiukir. Pemilihan berlangsung tertib dan aman yang dimulai dari pukul 7.30 wita dan penghitungan suara dilaksanakan pukul 13.00 wita.

Hasil perolehan suara masing-masing calon :
No urut 1. I Made Sulantra dengan perolehan suara 227 suara
No urut 2. I Ketut Sukanaya (pejabat lama)  dengan perolehan suara 66 suara
No urut 3. I Ketut Wisnu Adi Putra  dengan perolehan suara 110 suara

Dengan demikian jabatan Bendesa Pakraman Galiukir periode 2015-2020 di pegang oleh I Made Sulantra. Pelantikan direncanakan akan dilaksakan pada tanggal 3 Pebruari 2015 setelah pemilhan staf dan pemilihan Kelian Banjar Adat di masing-masing banjar adat.



Pujawali Kahyangan Dalem bertepatan Nyepi

, 12 Maret 2013

Pujawali yang jatuh pada Anggarakasih Julungwangi tanggal 12 Maret 2013 adalah bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Berdasar pada paruman Desa Pakraman dan kesepakatan masyarakat, pujawali akan tetap dilaksanakan. 

Pelaksanaan pada saatnya memang akan tidak sepertri biasanya, prosesi pujawali akan dilaksanakan  pada pagi hari Selasa mulai dari jam 4 sampai jam 6 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk tetap bisa melaksanakan tapa brata penyepian dan pujawali tetap berjalan. 

Pembangunan Gedung Serba Guna

, 01 Januari 2013

Pembangunan Gedung Serbaguna dengan dimensi 10 m x 20 m ini dibangun di lapangan Desa Pakraman dengan posisi disebelah tenggara. Tujuan pembangunan Gedung tersebut adalah untuk sarana kegiatan olah raga, rapat masyarakat, serta kegiatan masyarakat ataupun adat lainnya. 


Gedung ini dibangun dengan tinggi tiang kolom 6m dan akan ditembok di seluruh sisi dinding dengan tinggi 5 m. Atap yang digunakan adalah atap rangka baja ringan.

Rencana pembangunan gedung ini dilaksanakan secara bertahap dikarenakan kurangnya biaya.


Gede (MG)

Latihan Tari Rejang Sedang Marak di Desa Pakraman Galiukir

, 11 Mei 2012

MG-Latihan Tari Rejang pada Pasraman
(MG)-Tari Rejang adalah sebuah tarian yang dilakukan secara masal, gerak-gerik tarinya sangat sederhana (polos) yang biasanya ditarikan di Pura Pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara. Tarian ini dilakukan dengan penuh rasa hidrat, penuh rasa pengabdian kepada Bhatara Bhatari.

Para penarinya mengenakan pakaian upacara, menari dengan berbaris melingkari halaman Pura atau Pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegangan tangan. Tari Rejang di beberapa tempat juga disebut dengan Ngeremas atau Sutri.

Setiap daerah memiliki khas tarian dan karakter tersendiri yang disebut dengan rejang dresta, begitu pula dengan rejang dresta yang ada di Desa Pakraman Galiukir.

Namun Saat ini Di desa pakraman galiukir tari rejang tersebut tidak saja dapat disaksikan di Pura / Kahyangan, namun hampir disetiap rumah kita bisa melihat orang yang menari Tari Rejang ini baik secara ber-grup maupun menari sendiri untuk berlatih. Di sana-sini terdengar alunan gamelan Tari Rejang.

Hal ini disebabkan program dari Prajuru Adat yang mewajibkan seluruh Krama untuk ikut melaksanakan tari rejang saat Upacara Adat (Pujawali) di Kahyangan. Adalah dalam upaya melestarikan adat dan budaya yang dimiliki sebagai warisan leluhur.

Latihan khusus tari rejang dresta ini dilaksanakan oleh masing-masing Banjar Adat, dipusatkan di Gedung Serba Guna Bapak I Putu Redes dan sekaligus sebagai pelatih tari.

Juga pada pelaksanaan Pasraman anak-anak diselipkan pelajaran tari Rejang, dengan tujuan melatih dan mengenal secara dini tari Rejang tersebut.


Gede (MG) 

Penjor

, 29 April 2012

Penjor adalah Pering Selonjor, Pering (bambu) selonjor (sebatang) jadi bambu sebatang  yang dihias dan dibuat sedemikian rupa sehingga akan terlihat indah. Selain indah Penjor di Bali yang berhubungan dengan Upacara Yadnya, dituntut pula benar dan sesuai dengan Filsafat, Susila dan Upacara. Pada Hari Raya Galungan umat Hindu “Memenjor” yang terbuat dari Sebatang bambu dihiasi dengan “busung” /janur, dilengkapi pula dengan “keraras” /daun pisang kering, “kolong-kolong” terbuat dari janur, “Plawa” / kayumas, Pala Bungkah – Pala Gantung, Kelapa Bungkulan, Jajan dan Sampyan Penjor. Untuk mengikat dipergunakan “Tali Tutus”/tali bambu, bukan tali plastik seperti kebanyakan saat ini. Penjor untuk keperluan Upakara Yadnya dilengkapi dengan Sanggah Cucuk sebagai tempat  menaruh persembahan / Yadnya.

Penjor merupakan perlambang dari Gunung Udaya / Tohlangkir yang lazim disebutkan dengan nama Gunung Agung, Penjor merupakan ungkapan rasa syukur dan bakti kita kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas segala kesejahteraan dan kedamaian yang telah dianugrahkan kepada umat manusia. Gunung Agung adalah tempat suci, demikian pula gunung-gunung yang lain di Nusantara, sehingga kesucian ini diwujudkan dengan didirikannya tempat-tempat suci Hindu / Pura, seperti di Gunung Mahameru, Gunung Semeru, atau Gunung Himalaya.

sumber : Arti dan Makna Sarana Upakara oleh Pinandita, Drs. I Ketut Pasek Swastika. 

Pembangunan Senderan "Setra" Desa Pakraman Galiukir

, 26 April 2012

Pembangunan senderan ini bertujuan untuk menahan luapan air sungai dan pengikisan tepi sungai  yang terjadi terutama dimusim hujan, disamping juga untuk menambah keindahan serta menjaga kebersihan setra. Senderan dengan panjang 75 m ini mengelilingi areal setra disebelah utara dan timur.

Disamping penyenderan juga dibangun bale, yang befungsi untuk berteduh disaat penguburan maupun saat Pengabenan.









Pelaksanaan Upacara Macaru di Lapangan Adat Desa Pakraman Galiukir

, 19 Mei 2011

Jebolnya senderan lapangan adat Desa Pakraman Galiukir tanggal 23 Oktober  2010 yang lalu, kini sudah diperbaiki kembali dengan pelebaran 30 cm arah barat sepanjang 64 meter.  Pembangunan tersebut menelan total biaya  sebesar Rp. 53.212.000,- yang termasuk pembangunan Padmasana diujung Timur Laut lapangan tersebut. Tindak lanjut rehab senderan tersebut dilanjutkan dengan pelaksanaan "Upacara Macaru dan Pamelaspasan" yang dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2011. 

Upacara "Macaru" dalam keyakinan Agama Hindu memiliki tujuan sebagai pembersihan, dan menetralisir alihfugsi tanah yang sebelumnya adalah tanah perkebunan menjadi sarana kegiatan umum. Lapangan dengan luas 36 are ini yang sebelumnya adalah milik atas nama I Ketut Cetog adalah hasil Tukar Guling dengan  tanah ("Pelaba Desa") Desa Pakraman Galiukir dengan luas 2 Ha. Adapun tujuan pembangunan lapangan adat ini adalah sebagai tempat  kegiatan olah raga, kegiatan seni, tempat pelaksanaan upacara Yadnya terutama "Ngaben Massal" yang dilaksanakan tiap 5 tahun sekali, serta kegiatan umum lainnya baik Desa Dinas dan Desa Adat.



 
Kontak Kami | Tentang Kami | Sitemap
Copyright © 2013. Media Galiukir - All Rights Reserved

© Email : galiukir-blog@hotmail.com